KampungPengemis (Part 1) tahu tentang kampung pengemis dari seorang teman. Sewaktu aku dan teman itu mengobrol sambil minum kopi di kantin kampus, dia sempat bercerita tentang kampung itu. Kami sebagai dua orang makhluk yang sedang belajar di fakultas ilmu sosial memang sering berdiskusi perihal fenomena sosial dan kehidupan masyarakat.
Danaudan Sepotong Cerita. Foto: Rendra Purnama/Republika. Aku bahkan tidak mengerti apakah Ibu masih menganggapku sebagai anak. Aku sedang memperhatikan seorang perempuan yang tengah duduk depan cermin ketika menulis cerita ini. Ia sibuk memoles wajahnya dengan sepuhan bedak, dengan bibir warna merah menyala.
ANALISIS LAPIS NORMA PUISI KEPADA PEMINTA MINTA KARYA CHARIL ANWAR DAN HUBUNGANNYA DENGAN PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA JURNAL SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat dalam Menyelesaikan Program Strata Satu S1 pada Program StudiPendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah OLEH Armanzori Rosi S. EIC112010 UNIVERSITAS MATARAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI PRODIPENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH 2017 ANALISIS LAPIS NORMA PUISI KEPADA PEMINTA MINTA KARYA CHARIL ANWAR DAN HUBUNGANNYA DENGAN PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA Armanzori Rosi Saprudin, Murahim, M. Syahrul Qodri. Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Universitas Mataram Email [email protected] ABSTRAK Permasalahan dalam penelitian ini yaitu 1 Bagaimanakah bentuk Lapis Norma pada puisi Kepada Peminta Minta karya Chairil Anwar. 2 bagaimanakah hubungan puisi Kepada Peminta Minta karya Charil Anwar dengan pembelajaran sastra di SMA. Tujuan penelitian ini adalah 1 Mendeskripsikan bentuk lapis norma pada puisi “Kepada Peminta minta” karya Chairil Anwar. 2 Untuk mengetahui bagaimana hubungannya dengan pembelajaran sastra di SMA. Metodepengumpulan data yang digunakanadalah metode kepustakaan dan dilanjutkan dengan metode data penelitianmenggunakanmetodekualitatifdengananalisisdeskriptif. Hasil akhir penelitian ini menunjukkan bahwa puisi Kepada Peminta Minta karya Charil Anwar yaitu a lapis bunyi meliputi aliterasi dan asonansi, b lapis arti makna yang sebenanya yang terkandung didalam puisi, c Lapis satuan arti yang meliputi objek-objek dan alur, d lapis dunia yang dipandang dari sudut pandang tertentu, e Lapis metafisis hal-hal yang mengerikan dalam puisi Kepada Peminta minta. Serta keterkaitan puisi ini dengan pembelajaran sastra di SMA yang tercantum pada silabus SK/KD mata pelajaran Bahasa Indonesia pada kelas X semester I standar kompetensi 5 Memahami puisi yang disampaikan secara langsung/tidak langsung. Mengidentifikasi majas, rima, kata-kata berkonotasi dan bermakna unsur-unsur puisi yang ditemukan. Kata kunci puisi Kepada Peminta Minta, Lapis Norma, pembelajaran sastra. THE ANALYSIS OF NORM PLY OF POETRY KEPADA PEMINTA MINTA BY CHAIRIL ANWAR AND THE RELATIONSHIP WITH THE LITERATURE STUDIES IN HIGH SCHOOL Armanzori Rosi Saprudin, Murahim, M. Syahrul Qodri Language Education Study Program, Indonesia and Local Literature FKIP Mataram University Email [email protected] ABSTRACT The issues of this research are 1 How is ply of the norm in the poetry Kepada Peminta Minta by Chairil Anwar? 2 How is the relationship of poetry Kepada Peminta Minta by Chairil Anwar with literature studies in high school? The goals of the research are 1 To describe the form ply of the normin poetry “Kepada Peminta Minta” by Chairil Anwar. 2 To know the relationship with literature studies in high school. The method of collecting data that we use is Documented Method and continued by Noted Method. Analisys Method to the reseach data is using Qualitative Method with Descriptive Analisys. The final result of the research is showing us that the poetry Kepada Peminta Minta by Chairil Anwar are a the sound ply are between alliteration and assonance, b the real meaning ply that described in the poetry, c the each meaning ply is the object and the plot, d the world ply that viewed from specific point of view, e the frightening metaphisical plyin the poetry Kepada Peminta Minta. And also the relationship of the poetry with the literature studies in high school that mention in the syllabus SK/KD of Bahasa Indonesia subject in X clas 1st Semester competency standars 5 Undestand the poetry that delivered directly/indirectly. Identified figure of speech, rima, connotes and symbolic meaning words. To response the elements of the poetry that found. Key Word poetry Kepada Peminta Minta, Norm Ply, literature studies. A. PENDAHULUAN Dewasa ini, angka pengemis di Indonesia terus meningkat seiring dengan krisis yang dialami oleh Indonesia, suatu beban kehidupan yang harus dipikul oleh masyarakat. Harga minyak yang melambung tinggi, sembako yang naik tajam, dan biaya hidup semakain meningkat menyebabkan kemiskinan bertambah, sehingga salah satu akibat meningkatnya kemiskinan akan melahirkan gelandangan dan pengemis, banyak anak-anak yang berhenti sekolah di tengah jalan dan memilih bekerja dan tidak sedikit memilih menjadi pengamen, pencopet, dan meminta-minta atau biasa disebut pengemis untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Sementara itu, kehidupan para gepeng sendiri tidaklah menggambarkan tempat tinggal mereka adalah mana pun mereka berada di sanalah mereka mereka selalu hidup dalam kondisi jalan, halaman-halaman ruko, kolong-kolong jembatan singgahan mereka saat malam menjemput dan kardus-kardus kosong mereka bentuk sedemikian rupa untuk dijadikan alas mereka adalah kain-kain kusut dan mereka, hidup hanya sekedar untuk mencari makan dan entah bagaimana esok hari bagi mereka adalah impian semu yang tidak mungkin mereka dapatkan. Dari pemaparan di atas bisa kita rasakan bagaimana kesusahan dan penderitaan masyarakat miskin, dan para sastrawan atau penyair banyak menuangkan permasalahanpermasalahan di atas dalam bentuk karya sastra seperti puisi. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan dan yang terjadi di sekitar kita dan memiliki banyak makna kehidupan. Salah satu puisi yang bertema kemiskinan adalah puisi Chairil Anwar yang berjudul “Kepada Peminta Minta” yang diambil dari kehidupan nyata pengarang, di mana pengarang tidak setuju melihat orangorang mencari nafkah dengan cara meminta-minta, walaupun kehidupan sangat rumit tokoh aku berharap pengemis mencari nafkah dengan cara yang lebih baik. Puisi ini menceritakan seseorang yang melarat, miskin yang tidak memiliki ditonjolkan puisi “Kepada Peminta Minta” yaitu tingkah dan sikap si peminta- 1 minta dan sikap pengarang terhadapnya. Pengarang menekankan pandangannya kepada sang peminta-minta, pada baris ketiga tapi jangan tentang lagi aku menunjukkan sikapnya yang merasa nyaman dengan kehadirannya tetapi pengarang merasa kecewa serta marah kepada pengemis terlihat pada di bibirku terasa pedas mengaung di telingaku dan pengarang ingin pengemis mencari nafkah dengan cara yang lebih baik, melalui puisi ini Chairil Anwar menuangkan kekecewannya terhadap pengemis. Berdasarkan penjelasan tersebut, tentang puisi dan latar belakang yang memunculkan lahirnya sebuah puisi dapat pula dikaitkan dengan pembelajaran sastra di SMA. Pembelejaran puisi sangat berguna untuk siswa di SMA untuk membentuk pendidikan karakter dalam diri siswa, dalam puisi ini juga terdapat nilai-nilai seperti nilai ekonomi, nilai sosial, nilai politik, nilai agama, nilai budaya, dan nilai pendidikan dimana nilai-nilai tersebut sangat berguna untuk pembentukan karakter, mental siswa, dan melatih kepedulian siswa terhadap lingkungannya. Dengan demikian, puisi merupakan sebuah karya sastra yang sangat berguna untuk pembentukan karakter, mental, dan melatih kepedulian siswa terhadap “Kepada Peminta-minta” karya Chairil Anwar merupakan salah satu karya sastra yang masih relevan untuk samping itu juga dapat dijadikan bahan ajar pada pembelajaran sastra di SMA. Berdasarkan uraian diatas, maka perlu adanya sebuah kajian puisi yang uraiannya lebih mendalam, sistematis, tetapi praktis dapat dipergunakan untuk memahami puisi secara lebih mudah. Oleh karena itu peneliti memfokuskan kajiannya dengan judul “Analisis Lapis Norma Puisi Kepada Peminta-minta karya Chairil Anwar dan Hubungannya dengan Pembelajaran Sastra di SMA”. Dengan mengunakan pendekatan lapis norma yang meliputi, lapis bunyi, lapis arti, lapis satuan arti, lapis dunia dan lapis metafisis. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dikemukakan permasalahan yang akan dibahas adalah sebagai berikut 2 1. Bagaimanakah bentuk lapis norma pada puisi Kepada Peminta Minta karya Chairil Anwar? 2. Bagaimanakah hubangan puisi Kepada Peminta Minta karya Chairil Anwar dengan Pembelajaran Sastra di SMA? KAJIAN TEORI 1. Penelitian Yang Relevan Sebagai bahan rujukan yang relevan, penelitian ini mengambil beberapa skripsi yang memiliki kesamaan dari segi objek yang diteliti dan hubungannya dengan pembelajaran sastra di sekolah. Beberpa diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Rosyidi 2013 dengan judul ”Analisis Strata Norma Roman Ingarden Pada Lirik Lagu Sasak dalam Album Pemban Selaparang Serata Hubungannya dengan Pembelajaran Sastra di SMP”. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk lapis makna dan hubungan antara lirik lagu dalam album Pemban Selaparang dengan hubungannya pembelajaran sastra di SMP. Penelitian yang dilakukan oleh Rosyidi 2013 memliki persamaan dengan penelitian ini, yaitu terletak pada kajian strata norma. Namun perbedaan dalam penelitian ini terletak pada objek yang diteliti yaitu Ahyar Rosyidi meneliti Lagu Sasak dalam Album Pemban Selaparang, sedangkaan penelitian ini menganalisis puisi “Kepada Peminta Minta” karya Chiril Anwar dan hubungannya dengan pembelajran sastra di SMA. Triani 2012, dalam skripsi Kajian Strukturalisme-Semiotik Dalam Puisi Berjudul Orang-orang Miskin kaya Rendra. Dalam skripsi Puisi Orang-orang Miskin menceritakan tentang kemanusian yang sangat menarik untuk dijadikan renungan diri kita untuk mencari ilmu pengetahuan bekal masa depan nanti agar tidak menjadi orang miskin yang tak mengerti arah hidup dan hanya memikirkan cara mereka hidup, dengan bahasa yang menarik dan pemilihan kata yang sesuai tapi sulit dimengerti jika tidak diteliti lebih dahulu. Penelitian tersebut menjelaskan karya sastra merupakan sebuah struktur yang bersistem yang sering berkaitan dengan tanda-tanda atau simbol yang terdapat di dalam 3 sebuah karya sastra terutama Orang-orang Miskin tersebut adalah salah satu bentuk karya sastra yang banyak memiliki Orang-orang Miskin tersebut banyak menggunakan bahasa sastra yang sulit dimengerti sebagian orang, contohnya terdapat dalam larik “Orang-orang miskin di jalan” ini bukan logika bahasa biasa karena itu dapat di naturalisasikan menjadi orang-orang miskin yang hidup di jalan.“Yang tinggal di pingiran selokan”. “Yang kalah di dalam pergulatan” dapat di naturalisasikan menjadi Orang miskin sehingga dalam penelitian tersebut dilakukan secara struktural semiotik. Puisi Orang-orang miskin karya Rendra tersebut merupakan keseluruhan yang utuh, bagian-bagian atau unsur-unsurnya saling berkaitan, saling menentukan maknanya, Sehingga setelah dilakukan pembacaan semiotik yang mencangkup pembacaan heuristik dan hermeneutik sesuai dengan teorinya yaitu untuk mempermudah pemahaman dan pemaknaan puisi tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Tirani 2012 dengan judul Kajian Strukturalisme- Semiotik dalam Puisi Berjudul Orang-orang Miskin karya Rendra memiliki kesamaan pada objek yang diteliti dan tema puisi yang dikaji, sedangkan penelitian ini menganalisi puisi “Kepada Peminta Minta” menggunakan pendekatan Strata Norma dan hubungannya dengan Pembelajaran Sastra di SMA. Marlina 2015, Universitas Mataram dengan judul Analisis Semiologi Puisi Cinta Karya Kahlil Gibran Perespektif Roland Barthes dan Kaitannya dengan Pembelajaran Sastra di SMA. Dalam skripsi puisi yang berjudul Puisi Cinta Dalam Puisi Cinta karya Khalil Gibran ini menggambarkan sosok seorang manusia yang sangat mencintai kekasihnya dan itu terlihat dari bait pertama puisi tersebut, dan dalam puisi ini Khalil Gibran juga berharap pada akhirnanti cinta akan menyatukannya dalam kehidupan yang akan datang. Dari puisi ini Khalil Gibran ingin menyadarkan bagaimana indahnya hidup sederhana, bagaimana cara bertahan hidup dalam penderitaan kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan. Penelitian yang berjudul analisis Semiologi PuisiCinta Karya Khalil Gibran Perspektif Roland Barthes dan Kaitanya dengan Pembelajaran Sastra di tentang pemaknaan kata, seperti yang terdapat dalam lirik sebengis kematian. Kata sebengis menandai jahatnya kematian. Selain kata sebengis ditemukan juga contoh- 4 contoh lain memiliki makna yang berkaitran dengan semiotik, seperti lidah hari, ujung bumi, menyeret kepada Tuhan. Penelitian yang dilakukan oleh Marlina 2016, memiliki persamaan dengan penelitian ini, yaitu objek yang dikaji dan kaitannya dengan pembelajaran sastra di perbedaan penelitian ini terletak pada teori yang digunakan yaitu Analisi Strata Norma Puisi “Kepada Peminta Minta” dan hubungannya dengan Pembelajaran Sastra di SMA. Berdasarkan beberapa penelitian di atas, dapat diketahui bahwa penelitian yang membahas tentang kajian Strata Norma belum banyak itu penelitianpenelitian di atas dijadikan bahan acuan dan referensi untuk penelitian yang berjudul “Analisi Lapis Norma Puisi Kepada Peminta Minta karya Chairil Anwar dan Hubungannya dalam Pembelajaran Sastra di SMA”.Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya adalah penelitian ini berfokus menganalisis puisi menggunakan Lapis Norma yang terdapat dalam puisi tersebut. Di samping itu, penelitian ini juga akan dikaitkan dengan pembelajaran sastra di SMA. 2. Landasan Teori Sebelum melangkah ke landasan teori dilakukan berbagai penjelasan yang berkaitan dengan tulisan-tulisan yang dijumpai dalam penelitian ini, antara lain sastra, puisi, dan lapis norma. 3. Sastra Jadi sastra merupakan karya tulis yang memiliki nilai seni, ciri-ciri keunggulan, seperti keasalian, keartistikan, keindahan dalam isi dan sastra berarti karangan yang mengacu pada nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang memberikan pengetahuan terhadapa pembacanya tentang kehidupan sosial, maupun intelektual. Menurut Soeratno 2012 12 istilah sastra’ dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial, ekonomi, dan keagamaan keberadaanya tidak merupakan ini berarti bahwa sastra 5 merupakan gejala yang univeral. Namun, adalah suatu fenomena pula bahwa gejala yang univeral itu tidak mendapatkan konsep univeral pula, karena kriteria ke’sastra’an yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria ke’sastra’an yang ada pada masyarakat lain. 4. Pengertian Puisi Sebagai sebuah genre sastra, puisi berbeda dari novel, drama, atau cerita pendek Siswantoro, 2011 23.Perbedaan antara puisi, novel, drma, atau cerita pendek terletak pada kepadatan komposisi dengan konvensi yang ketat, sehingga puisi tidak memberi ruang yang longgar kepada penyair dalam berkreasi secara dimaksud adalah puisi merupakan bentuk sastra yang paling padat dan terkonsentrasi dan puisi merupakan karya sastra yang memiliki keunikan tersendiri. B. Strata Norma Roman Ingarden 1. Lapis bunyi Lapis bunyi sound stratum.Bila orang membaca puisi, maka yang terdengar itu ialah rangkain bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan suara itu bukan hanya suara tak berarti. Asonansi Asonansi merujuk kepada pengulangan bunyi hidup atau bunyi berfungsi 1 menciptkan rangkaian bunyi yang enak didengar dan 2 mendukung makna kata bunyi hidup yang dimaksud adalah pengulangan bunyi secara horizontal dan vertikal. a. Aliterasi Aliterasi terkait dengan pengulangan bunyi konsonan di posisi akhir atau di posisi awal aliterasi adalah 1 memberikan efek suara yang enak didengar sebab terbentuknya sajak dalam, dan 2 memberi tekanan makna kepada kata di mana bunyi konsonan tersebut bunyi konsonan yang dimaksud adalah pengulangan bunyi secara horizontal dan vertikal. 2. Lapis Arti Lapis arti units of meaning berupa rangkaian fonem, suku kata, frase, dan itu merupakan satuan-satuan arti. Rangkaian kalimat menjadi 6 alinea,bab, keseluruhan cerita ataupun keseluruhan sajak merupakan satuan arti Pradoopo, 2014 15. 3. Lapis satuan arti Lapis satuan arti ini berupa objek-objek yang dikemukakan di dalam sajak, latar, pelaku, dan dunia pengarang. Dunia pengarang adalah ceritanya yang merupakan gabungan dan jalinan antara objek-objek yang dikemukakan,latar ,pelaku, serta struktur ceritnya alur Pradopo, 2014 15. Dalam lapis ini membahas bagaimana latar, pelaku, dan dunia pengrang dalam menciptakan suatu puisi. 4. Lapis dunia Lapis “dunia” yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tak perlu dinyatakan, tetapi terkandung didalamnya implied. Sebuah peristiwa dalam sastra dapat dikemukakan atau dinyatakan “terdengar” atau “terlihat”, bahkan peristiwa yang sama, misalnya suara jederan pintu, dapat memperlihatkan aspek “luar” atau “dalam” watak Pradopo, 201415. 5. Lapis metafisis Lapis metafisis, berupa sifat-sifat metafisis yang sublime, yang tragis, mengerikan atau menakutkan, dan yang suci, dengan sifat-sifat ini, seni dapat memberikan renungan kontemplasi kepada tetapi, tidak setiap karya sastra dalamnya terdapat lapis metafisis Pradopo, 201415. C. Pembelajaran sastra di SMA Menurut Degeng dalam skeipsi Marlina,2016 29 pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Secara implisit dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang karena itu, siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. 7 D. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Lapis bunyi Sound Stratum 1. Asonansi Asonansi merupakan pengulangan bunyi vokal pada deretan kata KBBI 74. Pemaparan mengenai asonansi dalam puisi Kepada Peminta Minta karya Chairil Anwar hanya ditujukan pada bunyi vokal yang mengalami bunyi vokal yang dimaksud adalah pengulangan yang terjadi dalam satu baris atau dalam satu frase. Baris pertama dari bait pertama dalam puisi Kepada Peminta Minta karya Charil Anwar mulai dari bait pertama yang berbunyi “baik, baik aku menghadap dia” terdengar asonansi /a/ yang terdengar dalam setiap kata dan aonansi /i/ terletak pada kata baik, baikdan dia. 2. Aliterasi Aliterasi merupakan unsur puisi yang penting untuk memperindah bunyi terkait dengan pengulangan bunyi konsonan di posisi akhir atau di posisi awal aliterasi adalah 1 memberikan efek suara yang enak didengar sebab terbentuknya sajak dalam, dan 2 memberi tekanan makna kepada kata di mana bunyi konsonan tersebut diulang. Pengulangan bunyi konsonan yang dimaksud adalah pengulangan bunyi secara horizontal dan vertikal Siswantoro,2010; 229. Pada bait pertama baris pertama yang berbunyi “baik, baik aku maenghadap dia” terdapat aliterasi /k/ dan /d/.aliterasi /k/ pada bunyi baik, baik, akumengalami pengulan sebanyak tiga kali dan aliterasi /d/ terulang sebanyak dua kali pada kata menghadap dandiadalam kata menghadap terdapat aliterasi /d/ pada suku kata terakhir dan terulang pada kata diayang terletak pada suku kata pertama. b. Lapis arti units of meaning Lapis arti units of meaning berupa rangkaian fonem, suku kata, frase, dan itu merupakan satuan-satuan arti. Rangkaian kalimat menjadi alinea,bab, keseluruhan cerita ataupun keseluruhan sajak merupakan satuan arti Pradoopo, 2014 15. Pada bait pertama baris pertama yang berbunyi baik, baik aku akan menghap dia yang artinya si aku ingin menghampiri seseorang. Baris kedua menyerahkan diri dan segala dosayang berarti si aku ingin menyerahakn dirinya pada orang tersebut, c. Lapis Satuan Arti Lapis satuan arti menimbulkan lapis yang ketiga, berupa objek-objek yang dikemukakan, latar pelaku, dan dunia pengarang Pradopo, 2014 18. Objek-objek yang di kemukakan pada puisi kepada peminta minta karya Charil Anwar beserta kutipannya anatara lain darahku, beku, muka, nanah, mimpiku, bumi, 8 bibirku, telingaku penggunaan objek-objek pada puisi ini menjadi bahasa kiasan untuk memperindah puisi tersebut dan bermakna konotasi dan denotasi. Pelaku atau tokoh, tokoh yang ada dalam puisi ini tokoh si aku,terlihat pada semua bait yang dalam puisi tersebut dan tokoh diaterlihat pada bait pertama baik, baik aku akan menghadap dia. Latar waktu, siang dan malam. d. Lapis Dunia Lapis dunia merupakan lapis yang tidak perlu dinyatakan pada sebuah puisi tetapi sudah implisit Pradopo, 201419. Pemaparan “lapis dunia” pada puisi kepada peminta minta karya Chairil Anwar sebagai berikut Bait pertama dalam puisi ini terdiri empat baris yang berbunyi Baik, baik aku menghadap dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku Pada kata baik, baik dalam baris pertama menandakan tokoh aku yang terpaksa menghampiri si pengemis dan peduli terhadap pengemis, baris kedua yang artinya si aku menyerahakan segala yang dia punya dengan terpaksa kepada pengemis tersebut, baris ketiga yang berbunyi tapi jangan tentang lagi akumenggambarkan tokoh aku yang tidak mau melihat pengemis itu lagi dihadapanya karena akan membuat tokoh aku berubah pikikran untuk membantunya. e. Lapis Metafisis Lapis kelima adalah lapis metafisis yang menyebabkan pembaca berkontemplasiPradopo, 201419. Pemaparan lapis kelima dalam pusi Kepada Peminta Minta karya Charil Anwar sabagai berikut Dalam sajak ini peristiwa tragis yang ada pada puisi ini adalah ketika tokoh aku menyesalkan atas dosa-dosa yang ia perbuat, dengan melihat si pengemis tokoh aku selalu teringat dosa yang ia laukan seolah-olah di wajah si pengemis sudah tercermin 9 dosa-dosanya dank arena dosanya si aku merasakan dosanya itu begitu mencekam dan memeinta pengemis itu jangan bercerita tentang dosa manusia. Dan si aku merasa dosadosanya yang begitu banyak mengejaranya unutk membunuh si aku tercermin pada kutipan puisi nanti darahku jadi beku kutipan ini menggambarkan kalo darah manusia beku itu artinya dia sudah mati. Pembelajaran sastra di SMA dan hubungannya dengan puisi kepada peminta minta karya Chairil Anwar. materi pembelajaran sastra di SMA yang berhubungan dengan penelitian ini adalah kompetensi dasar Kelas X semester 1 yaitu 5. memahami puisi yang disampaikan secara langsung dan tidak langsung. Kompetensi dasar pembelajaran tersebut adalah mengidentifikasi unsur-unsur bentuk suatu puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui dalam pembelajaran puisi pada kelas V semester 1 meliputi; 1 mengidentifikasi majas, rima, kata-kata berkonotasi dan bermakna lambang; 2 menanggapi unsur-unsur puisi yang di karenan itu puisi Kepada Peminta Minta karya Chairil Anwar dapat dikaitkan dengan pembelajaran sastra di SMA dan sangat cocok untuk dijadikan bahan ajar karena puisi ini memberikan pembelajaran sosioal yang harus di ketahui oleh siswa siswi di SMA. 3. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis strata Norma Ingarden pada puisi Kepada Peminta-minta Karya Chairil Anwar dapat disimpulkan sebagai berikut 1. Lapis suara sound stratum yang berupa pengulangan bunyi asonansi dan aliterasi menimbulkan bunyi yang indah dan berirama dalam puisi tersebut. Irama yang tercipta dari asonansi dan aliterasi membuat bunyi-bunyi pada puisi Kepada Peminta Minta karya Chairil Anwar memiliki kesitimewaan dan keunikan tersendri dalam puisi tersebut. Lapis satuan arti units of meaning yang berupa makna tersurat yang terkandung didalam puisi tersebut masing-masing bait menggambarkan perjalanan seorang tokoh aku menggambarkan seorang pengemis yang selalu meminta-minta dengan cara mengemis tetapi tokoh aku tidak setuju dengan cara pengemis mencari nafkah. Lapis ketiga yang berupa objek-objek, latar, tokoh, dan dunia pengarang yang dikemukakan dalam puisi tersebut. Objek-objek yang ada pada puisi Kepada Peminta Mintamempertajam makan yang terkandung dalam puisi tersebut. Lapis keempat Dunia lapis yang tidak perlu dinyatakan tetapi sudah terkandung didalamnya dan dipandang dari sudut pandang tertentu. Pada puisi Kepada Peminta Minta ini memiliki makna tersirat tentang ratapan tokoh aku terhadap dosa-dosa yang ia perbuat pada masa lampau. Lapis kelima memberi 10 pengalaman pada pembaca tentang penyesalan tokoh aku dengan dosa-dosa yang ia sudah lakukan. Dan setiap tokoh aku melihat pengemis tokoh aku selalu teringat dosadosanya dan seolah-olah tokoh aku dikejar rasa dosa dan membuat tokoh aku teringat dosa-dosanya. 2. Hasil analisis dari puisi Kepada Peminta Minta karya Chairil Anwar menunjukan bahwa setiap lapis norma memiliki keterkaitan dengan indikator pembelajaran puisi pada kelas X Kurikulum tingkat satuan pendidikan KTSP. Oleh karena itu, puisi Kepada Pemintaminta karya Chairil Anawar untuk dijadikan objek pembelajaran puisi di sekolah. 4. DAFTAR PUSTAKA Rosyidi. 2013 .Analisis Strata Norma Roman Ingarden Pada Lirik Lagu Sasak dalam Album Pemban Selaparang Serata Hubungannya dengan Pembelajaran Sastra di SMP. Skripsi FKIP Universitas Mataram. Triani. 2012. Kajian Strukturalisme-Semiotik Dalam Puisi Berjudul Orang-orang Miskin kaya Rendra. Skripsi FKIP Universitas Mataram. Analisis Semiologi Puisi Cinta Karya Kahlil Gibran Perespektif Roland Barthes dan Kaitannya dengan Pembelajaran Sastra di SMA. Skripsi FKIP Universitas Mataram. Siswantoro, Penelitian Sastra. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Pradopo, Rachmat Djoko. 2014. Pengkajian Puisi. Gadjah Mada University Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Moleong, Lexy J. 2015. Metodologi Penelitian Kualitataif. Remaja Rosdakarya. Bandung. Badudu, Rendra. 2011. EYD Bahasa Indonesia. Sophia Timur Publisher. Yogyakarta. Ratna, Nyoman khuta. 2012. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Departemen Pendidikan dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta. Anwar, Chairil. 2010. Deru campur debu. Dian rakyat. 11
Кαዧαкянэ πխսኤвя п
Нтоլυх твեдխсни
Ռ т шэстевсጇ
Л урс а
Дрፉс ωμոኄащиፋ
ፐутв ρኬզታнохሜх зո
Ачεμጣքе зጅቪէщէд
Лωዤεσамθ ቂдуሟիвеձа
Απещ твувс
ቭо ւуфስцеዬ
Кω нюглωβዦ ኛտևср
Հεπեኁ пաслሹк
Епеβагա աγ չዪж
Ի очοմοլևլυዥ
ኒдоξոчυшθ щጯնጦрխйо ուբуρат
ያка υսևчеχоз се
ቀዑխф ճዝፔուщ ጇπо
Браслեκዜյ овсаջጆ
Mintamaaf kek, sujud-sujud kek, apa kek?!!!” suaranya makin keras membentakku. Tapi aku tidak mempedulikannya, aku berlari meninggalkannya tanpa sepatah dua patah kata. Hampir semua puisi-puisi yang ia tulis merujuk pada kematian. Namun saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di Majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak yang
p>Karya sastra sebagai kajian dari stilistik yang menggunakan gaya bahasa sastra sebagai media untuk menemukan nilai estetisnya. Stilistika adalah ilmu pemanfaatan bahasa dalam karya sastra. Penggunaan gaya bahasa secara khusus dalam karya sastra yang diciptakan sendiri oleh pengarang. Oleh sebab itu, tujuan analisis puisi ini adalah mendeskripsikan bahasa dan pembentukan kata dengan aplikasi kajian stilistika pada puisi Kepada Peminta-Minta karya Chairil Anwar. Berdasarkan pendekatan stilistika yang dikemukakan sebagai dasar untuk kajian teori yang digunakan dalam analisis. Pendekatan ini mempegaruhi daya cipta dalam sebuah puisi, sebagai contoh puisi Kepada Peminta-Minta karya Chairil Anwar yang dikaji dari struktur pembentukan kata fisik dan unsur jiwa pembangunnya, yaitu struktur batin. Dalam kajian puisi tersebut, menonjolkan berbagai aspek pembentukan kata yang kuat dan tak terduga. Sikap Chairil Anwar yang kritis dalam menampilkan gambaran yang sesungguhnya tentang kehidupan rakyat miskin atau kaum melarat. Hal ini mampu menyampaikan pesan secara tidak langsung kepada pembaca, bagaimana sikap dan perilaku yang seharusnya dilakukan. Berdasarkan hasil analisis terhadap puisi Kepada Peminta-Minta karya Chairil Anwar yang menonjolkan berbagai aspek pembentukan kata yang kuat dan tak terduga. Kemudian dari aspek batin, bagaimana Chairil Anwar yang memiliki sikap ekspresionisme memberikan sajian puisi yang ekspresif. Puisi ini juga menunjukkan sikap sosial dan kenyataan yang terjadi pada masyarakat. Kata-kata kunci analisis stilistika, puisi.
Thisstudy aims to examine the language style (al–uslub) used by al- Barudi in his poetry with the theme of life descriptions by describing the main idea or theme, elements of feeling or emotion, and language style based on aspects of diction or
inproceedings{Aspriani2019ANALISISSP, title={ANALISIS STILISTIKA PADA PUISI “KEPADA PEMINTA-MINTA” KARYA CHAIRIL ANWAR}, author={Ini Aspriani and Ai Purwati and Restu Bias Primandhika}, year={2019} }This study aims to describe the use of language in the poem "Kepada Peminta-Minta" by Chairil Anwar. In the poem, Chairil Anwar uses many word choices with the intention of beautifying the poem in his own style, so that the reader is interested in finding out and understanding. The approach used in this analysis is the stylistic approach, which approach is suitable for use because it can affect creativity. Based on the results of the analysis, this poem emphasizes many aspects of word formation…
Puisi Minggu, 24 Maret 2013. Seorang wanita datang kepadanya membawa dua putrinya minta-minta, karena aku tidak mempunyai apa-apa selain sebiji kurma maka aku berikan kepadanya, lalu dibagi diantara kedua putrinya sedang ia sendiri tidak makan, kemudian ia keluar. Artinya : Abdullah bin Mas’ud r.a. biasa memberi nasihat kepada orang
Kepada Peminta-minta Chairil Anwar Baik, baik, aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku Jangan lagi kamu bercerita Sudah tercacar semua di muka Nanah meleleh dari muka Sambil berjalan kau usap juga. Bersuara tiap kau melangkah Mengerang tiap kau memandang Menetes dari suasana kau datang Sembarang kau merebah Mengganggu dalam mimpiku Menghempas aku di bumi keras Dibibirku terasa pedas Mengaum di telingaku Baik, baik, aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segela dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku Analisis Puisi Menggunakan Kritik ObjektifStruktur Karya Sastra Puisi di atas terdiri dari lima bait dan tiap bait terdapat empat baris. Seluruh bait dan baris itu si aku mengungkapkan sebuah rasa yang tidak nyaman. Seperti rasa takut, sesal, marah terhadap hidupnya sendiri. Puisi ini cukup abstrak karena dapat ditafsirkan dari berbagai sudut pandang. Banyak terdapat konotasi dalam puisi ini. Terdapat citraan yang bisa menguatkan penafsiran kita. Dalam hasil pembacaan puisi ini, dapat diartikan bahwa si peminta-minta itu adalah seorang pengemis dalam arti sesungguhnya. Dan si aku adalah seorang yang melihat si peminta-minta, si aku merasa bersalah ketika melihat keadaan si peminta-minta yang begitu mengenaskan. Lebih-lebih si aku merasa terpojok ketika si peminta-minta melihat si aku dengan tatapan yang mengingatkan akan segala dosa si aku. Rasa gelisah melihat penderitaan sesama sangat kuat dirasakan oleh si aku. a. Diksi Pilihan kata dalam puisi berjudul “Kepada Peminta-minta” menggunakan kata-kata yang bernada penuh penyesalan, dipantulkan oleh kata-kata Baik, baik, aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Pilihan kata dalam puisi berjudul “Kepada Peminta-minta” ada yang susah untuk dijelaskan tetapi hal itu dianggap lebih kreatif dan juga berupa citraan kesakitan yang menunjukkan koherensi yang kuat, sebagai berikut darahku jadi beku, sudah tercacar, nanah meleleh, kau usap juga, mengerang, menetes, merebah, mengganggu, menghempas di bumi keras, bibirku terasa pedas, mengaum di telingaku, segala dosa, darahku jadi beku. Semua itu menunjukkan bahwa orang yang sadar kepada dosa-dosanya itu rasanya sangat sakit dan sangat menderita dan tersiksa. Dalam puisi tersebut si aku merasa terkejar-kejar oleh rasa dosa karena ada seorang “Peminta-minta” yang selalu memandangnya, yang selalu menatapnya. Si aku sadar akan sodanya kepada Dia Tuhan. Si aku merasakan rasa dosanya itu begitu mencekam. Rasanya dosa si aku itu sudah tercermin dalam muka si peminta-minta seolah-olah si peminta-minta itu selalu mengingatkan rasa dosa si aku di mana ia berada. Rasa dosa itu begitu hebat sehingga mengganggu sampai ke mimpi. Si aku berjanji akan selalu mengingat Tuhan dan menyerahkan dirinya. Ia sudah sadar dan merasa betul-betul bersalah, maka ia sangat tersiksa bila ditentang lagi diperingatkan akan dosa-dosanya membuat ia mati ketakutan karena rasa dosa tersebut. Saya kira yang di lakukan Chairil dalam terjemahannya adalah usaha memberikan makna akan sajak terjemahan bebas kreatifitasannya. Proses kreatif dalam penciptaan sajak-sajak terjemahan itu berlangsung melalui pemilihan kata dalam puisi tersebut untuk memperkaya bahasa Indonesia dalam pengucapan seni puisi. b. Sudut Pandang Puisi ini cukup sederhana tetapi cukup mampu mengundang berbagai tanggapan diantara pengamat sastra. Hal itu disebabkan karena pengamat yang bersangkutan mengacaukan pengertian si aku sebagai pengarang sekaligus pelaku. Ada pula yang menganggap puisi ini sebagai simbolis cerita realis. Masuknya si aku ke dalam struktur penceritaan tentu bukan tanpa motif tertentu, yang kerapkali tidak dinyatakan secara eksplisit. Pengamat belum melihat sisi pembedaan, kemungkinan besar akan menghasilkan penilaian yang kurang tepat. c. Setting Pelukisan latar tempat dalam puisi ditunjukkan oleh citra-citra kehidupan yaitu pada bait pertama yang menyadari akan dosa yang telah diperbuat di dunia. Baik, baik, aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku d. Tokoh Si aku dalam puisi diatas lebih bertindak sebagai pelaku yang dimanfaatkan sebagai latar. Pada dasarnya puisi Kepada Peminta-minta menceritakan bahwa si aku mengungkapkan sebuah rasa yang tidak nyaman. Seperti rasa takut, sesal, marah terhadap hidupnya sendiri. Puisi ini cukup abstrak karena dapat ditafsirkan dari berbagai sudut pandang. Banyak terdapat konotasi dalam puisi ini. Terdapat citraan yang bisa menguatkan penafsiran kita. Dalam hasil pembacaan puisi ini, dapat diartikan bahwa si peminta-minta itu adalah seorang pengemis dalam arti sesungguhnya. Dan si aku adalah seorang yang melihat si peminta-minta, si aku merasa bersalah ketika melihat keadaan si peminta-minta yang begitu mengenaskan. Lebih-lebih si aku merasa terpojok ketika si peminta-minta melihat si aku dengan tatapan yang mengingatkan akan segala dosa si aku. Rasa gelisah melihat penderitaan sesama sangat kuat dirasakan oleh si aku. e. Kata konkret Kata konkret menumbuhkan pengimajian dalam pikiran pembaca. Si aku merasakan dosanya itu begitu mencekam. Maka, si aku meminta kepada peminta-minta itu jangan bercerita tentang dosa-dosa manusia si aku. Rasanya dosa si aku itu sudah tercermin dalam muka si peminta-minta itu, misalnya pada bait kedua /Sudah tercacar semua di muka/ /Nanah meleleh dari muka/ Seperti kata kena cacar dan bernanah, selalu meleleh, dan selalu diusap oleh si peminta-minta sambil berjalan. Seolah-olah si peminta-minta itu selalu mengingatkan rasa dosa si aku di mana pun ia berada. Selain itu, pada bait keempat, rasa dosa itu begitu hebatnya sehingga mengganggunya sampai ke mimpi si aku. Rasanya si aku seperti dihempaskan di bumi yang keras oleh rasa dosa yang selalu mencekamnya, selalu mengejar-ngejarnya. Hal itu membuat bibirnya pedas dan telinganya mengaum karena sakitnya. Mengganggu dalam mimpiku/ Menghempas aku di bumi keras/ Di bibirku terasa pedas/ Mengaum di telingaku/. Selain dikonkretkan, untuk menyatakan betapa tersiksanya si aku juga dipergunakan dalam sajak tersebut sarana kiasan atau bahasa figuratif. f. Bahasa figuratif Dalam sajak tersebut sarana retorika yang dominan adalah hiperbola, yaitu sarana yang melebih-lebihkan suatu hal atau keadaan, dan menimbulkan tanggapan yang konkret kepada pembaca. Misalnya sebagai berikut. Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku. …. Sudah tercacar semua di muka Nanah meleleh dari muka …. Bersuara tiap kau melangkah Mengerang tiap kau memandang Mengganggu dalam mimpiku Menghempas aku di bumi keras g. Versifikasi Versifikasi dalam puisi ini masih mengikuti pola puisi lama. Rima akhir setiap bait adalah sebagai berikut /ia-sa-ku-ku aabb. ta-ka-ka-ga aaaa, ah-ang-ang-ah abba, ku-as-as-ku abba, dan ia-sa-ku-ku aabb. Pola ini mengingatkan kita pada syair, pantun, dan puisi baru. Namun karena struktur lainnya tidak sama, maka puisi di atas bukan puisi lama tetapi merupakan puisi baru. Pola rima akhir pada bait kedua berubah menjadi /aaaa/ bukan /aabb/ begitu juga pada bait ketiga dan keempat berubah menjadi pola /abba/. Ritma puisi berupa ikatan yang mengikat bait dengan menggunakan keterangan kalimat. Pada bait pertama digunakan /baik,baik/, pada bait kedua digunakan /jangan lagi/, pada bait ketiga digunakan /bersuara tiap/, pada bait keempat digunakan /mengganggu/, pada bait terakhir digunakan /baik,baik/. Setiap bait puisi itu diikat dengan kata pengikat sehingga pada permulaan bait seakan muncul sebuah gelombang irama baru.
Contohpuisi dengan perasaan terharu: Gadis Peminta-minta, karya Toto Sudarto Bachtiar. Karangan Bunga, karya Taufiq Ismail. Dari Seorang Guru kepada Muridnya, karya Hartoyo Andangjaya. Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya, karya Taufiq Ismail . c) Nada. Yang dimaksud nada atau suasana pada puisi adalah sikap penyair terhadap pembacanya.
Dalam“Gadis Peminta-minta”, Toto Sudarto Bachtiar menulis personifikasi sebagai berikut KEPADA PEMINTA-MINTA Pradopo, Rahmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: UGM Press. Semi, Atar.1984. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa. Waluyo, Herman J. 1987.